Washington, DC ā Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menegaskan bahwa pihaknya hanya akan mencabut sanksi terhadap Iran jika negara tersebut bersedia menyerahkan seluruh uranium yang diperkaya. Pernyataan ini sekaligus menolak kesepakatan yang sempat dikaitkan dengan keamanan Selat Hormuz.
Penegasan Rubio ini muncul di tengah eskalasi konflik yang kian meluas di kawasan Teluk. Militer AS mengaku melakukan serangan āpembelaan diriā di Pulau Qeshm, Iran, pada Rabu lalu. Sementara itu, media Iran melaporkan adanya ledakan di wilayah tersebut. Ketegangan bahkan merembet ke negara tetangga; Kuwait mengaku sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat drone dan rudal yang masuk, sementara Bahrain mengaktifkan sirine peringatan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengaku telah mencegat sejumlah rudal dan drone Iran. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan aset militer AS sebagai respons atas serangan Washington.
Analisis Dampak: Sikap keras Washington ini menutup celah diplomasi di tengah perang yang sudah memasuki hari ke-96. Dengan menolak kesepakatan yang menyangkut Selat Hormuzājalur vital pengangkut sepertiga minyak duniaāancaman terhadap rantai pasok energi global semakin nyata. Jika Iran tetap bertahan, bukan tidak mungkin harga minyak bumi melonjak drastis dan berdampak pada kenaikan harga BBM serta biaya logistik di Indonesia.