KYIV, BBC News Indonesia – Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke Ukraina. Akibatnya, sembilan orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Yang paling memilukan, sebuah katedral bersejarah berusia nyaris 1.000 tahun di pusat Kota Kyiv ikut terbakar dan rusak parah.
Katedral Dormition, yang merupakan bagian dari kompleks biara suci Kyivo-Pechersk Lavra, menjadi sasaran dalam serangan yang disebut Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, sebagai bentuk 'barbarisme negara'. Ukraina berjanji akan segera mengadukan aksi ini ke UNESCO dan organisasi internasional lainnya.
Di Kota Kharkiv, lima petugas pemadam kebakaran tewas saat berusaha memadamkan api akibat serangan Rusia. Sementara itu, serangan balasan Ukraina dengan drone ke Kota Tula, Rusia, juga menewaskan tiga orang dan melukai tiga lainnya, termasuk seorang bayi berusia satu tahun.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, melaporkan bahwa lebih dari 140.000 warga kehilangan aliran listrik. Rudal dan drone Rusia menghantam sejumlah gedung tempat tinggal, menyebabkan sedikitnya 23 orang terluka di ibu kota dan lima lainnya di Kharkiv.
Serangan ini terjadi menjelang pertemuan G7 di Prancis. Polandia, negara tetangga Ukraina, telah menerbangkan jet tempurnya sebagai langkah antisipasi. Pada hari Minggu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengaku sudah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump soal upaya mengakhiri perang yang dimulai sejak invasi penuh Rusia pada 2022 ini.
Analisis Dampak: Penghancuran situs warisan budaya seperti Katedral Dormition bukan sekadar kerugian fisik. Ini adalah pukulan telak bagi identitas dan spiritualitas bangsa Ukraina. Tindakan ini bisa memicu gelombang kecaman global yang lebih keras dan mempercepat proses isolasi Rusia di panggung internasional. Di sisi lain, krisis listrik yang meluas memperparah penderitaan warga sipil di tengah musim dingin, menciptakan krisis kemanusiaan yang semakin dalam.