Toronto, Kanada – Selama puluhan tahun, Kanada dikenal sebagai negara yang ramah terhadap imigran. Namun, belakangan ini angin berubah. Para ahli dan aktivis menyebut bahwa negara ‘daun maple’ itu kini mulai menutup pintu bagi para pendatang baru, seiring dengan meningkatnya tekanan ekonomi dan sosial yang menggerus konsensus lama tentang manfaat imigrasi.
Perdana Menteri Mark Carney, yang sebelumnya bersuara lantang di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos tentang perlunya dunia memutus ketergantungan dari AS, justru dianggap munafik. Di dalam negeri, pemerintahannya justru memperketat aturan imigrasi secara signifikan.
“Kami melihat perdana menteri pergi ke Davos dengan pidato indah... Tapi di dalam negeri, kebijakannya berkata lain. Kanada sekarang menutup pintu,” ujar Diana Gallego, Direktur Eksekutif FCJ Refugee Centre, kepada Al Jazeera.
Perubahan ini bukan terjadi tiba-tiba. Semasa pemerintahan Justin Trudeau, jumlah penduduk non-permanen meroket hingga 3,15 juta jiwa pada Oktober 2024, atau sekitar 8 persen dari total populasi. Kebijakan ini awalnya untuk mengisi kekosongan tenaga kerja pasca-pandemi, tapi justru memicu efek samping yang parah.
Analisis Dampak: Lonjakan imigran yang terlalu cepat tanpa diimbangi infrastruktur memicu krisis perumahan, harga pangan mahal, dan antrean panjang di rumah sakit. Akibatnya, warga lokal mulai menyalahkan pendatang baru, dan retorika permusuhan pun menguat. Pemerintah Carney kini memangkas visa sementara dan membatasi akses suaka, menandai apa yang disebut para ahli sebagai 'pergeseran generasi' dalam kebijakan imigrasi Kanada.