Publik dikejutkan dengan analisis mendalam terkait peta rencana pembangunan Gaza era Presiden AS Donald Trump. Menurut pakar, Sultan Barakat, visualisasi tata kota di Gaza itu justru sangat kental aroma kepentingan pendudukan Israel.
Barakat menyoroti, peta yang memuat cetak biru pembangunan ulang Gaza itu menunjukkan bagaimana rencana tersebut seolah dirancang untuk mengamankan kebutuhan Israel. Ini termasuk kontrol atas akses strategis dan pembatasan yang bisa menghambat kedaulatan serta pengembangan wilayah Palestina.
Rencana ini sendiri merupakan bagian dari 'Kesepakatan Abad Ini' atau 'Peace to Prosperity' yang pernah digagas pemerintahan Trump. Proposal ini sejak awal menuai banyak kritik karena dianggap sangat bias, cenderung menguntungkan Israel, dan diyakini tidak adil bagi Palestina.
Jika rencana yang digambarkan di peta ini benar-benar diterapkan, dampaknya bisa sangat besar bagi masa depan Gaza. Potensi kedaulatan Palestina bisa semakin tergerus, pembangunan ekonomi Gaza sulit mandiri, dan ketegangan di kawasan yang memang sudah memanas bisa makin membara. Para pemimpin Palestina bahkan telah menolak mentah-mentah proposal ini sejak pertama kali diperkenalkan, menganggapnya sebagai upaya melegitimasi pendudukan dan aneksasi ilegal. Analisis Barakat ini menambah daftar panjang kritik, memperjelas kekhawatiran bahwa proposal damai tersebut lebih merupakan cetak biru untuk kepentingan satu pihak, ketimbang solusi yang berimbang bagi kedua belah pihak.