Konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, diiringi gelombang protes besar-besaran diaspora Iran di berbagai belahan dunia. Situasi ini terjadi jelang potensi perundingan yang diprediksi tegang, dengan kedua belah pihak saling lontar pernyataan keras.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump menegaskan pihaknya mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah. Ia juga secara terbuka menyebut "pergantian rezim" di Iran sebagai "hal terbaik yang bisa terjadi." AS bersikukuh ingin membatasi program rudal Iran dan mengakhiri pengayaan nuklirnya.
Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam sebuah konferensi di Teheran, menolak keras tuntutan AS. Pezeshkian bahkan menuding AS telah mengebom fasilitas penyimpanan uranium yang diperkaya di Iran pada Juni lalu, yang kini disebut terkubur di bawah puing. Iran bersedia mengencerkan uranium tersebut jika sanksi dicabut. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada negara-negara seperti Azerbaijan, Turki, Qatar, Oman, dan Arab Saudi yang telah memediasi untuk mencegah serangan militer AS. Pezeshkian memperingatkan bahwa perang akan berdampak besar bagi seluruh kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, ribuan diaspora Iran turun ke jalan di kota-kota besar dunia seperti Munich, Los Angeles, Toronto, hingga kota-kota di Australia pada Sabtu lalu. Aksi protes ini, dipimpin oleh Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979, menuntut diakhirinya kekuasaan ulama di Iran. Unjuk rasa ini menjadi salah satu yang terbesar oleh diaspora Iran, menyusul protes mematikan di Iran sendiri tahun 2022-2023 akibat kematian Mahsa Amini, yang dituduh melanggar aturan hijab.
Gelombang protes diaspora ini menunjukkan ketidakpuasan global terhadap rezim di Teheran, sekaligus menjadi penyeimbang demonstrasi yang diselenggarakan pemerintah Iran untuk merayakan Revolusi 1979 beberapa hari sebelumnya. Klaim Iran tentang pemboman fasilitas nuklir oleh AS, jika benar, akan semakin memperkeruh tensi dan menambah kompleksitas upaya perdamaian di kawasan yang sudah labil ini. Dunia kini menanti bagaimana dialog yang dimediasi akan berlangsung, di tengah bayang-bayang ancaman militer dan tuntutan perubahan dari berbagai pihak.