Warga di kawasan Tshwane, yang mencakup ibu kota Afrika Selatan, Pretoria, diminta waspada. Pasalnya, lebih dari 400 orang jatuh sakit setelah mengonsumsi air keran yang terkontaminasi bakteri E. coli.
Dinas kesehatan setempat mencatat 408 kasus infeksi antara 7 hingga 18 Oktober. Mayoritas korban adalah anak-anak di bawah usia empat tahun. Gejala yang muncul berupa kram perut dan diare akut. Meski belum ada laporan korban jiwa, otoritas setempat telah menyatakan air di kawasan tersebut tidak layak konsumsi.
Hasil uji laboratorium menemukan berbagai patogen berbahaya seperti norovirus, campylobacter, dan shigella dalam sampel air. Investigasi awal mengungkap bahwa otoritas setempat gagal memberikan peringatan dini kepada warga terkait bahaya air tersebut. Pemerintah pun mengerahkan truk tangki untuk memasok air bersih darurat.
Insiden ini bukan yang pertama terjadi di Tshwane. Kawasan ini memiliki sejarah buruk terkait wabah penyakit bawaan air. Pada 2023 silam, 29 orang meninggal akibat wabah kolera di Hammanskraal yang diduga kuat akibat praktik purifikasi air yang buruk. Kemudian pada 2025, otoritas mengonfirmasi 48 kasus demam tifoid di area yang sama.
Dampak bagi masyarakat sangat signifikan. Warga diminta membuang stok air yang tersimpan dan mensterilkan wadah penampungan menggunakan pemutih rumah tangga. Krisis air bersih ini juga menambah beban ekonomi warga karena harus membeli air kemasan atau mengandalkan pasokan bantuan yang belum tentu merata.