"Bukan negosiasi, tapi pemusnahan!" Pernyataan mengejutkan ini muncul dalam diskusi para ahli tentang dugaan strategi Israel di balik penargetan dan pembunuhan pejabat senior Iran. Apa sebenarnya yang dicari Israel dan Amerika Serikat dalam konfrontasi yang kian memanas di Timur Tengah ini?
Dalam sebuah panel diskusi yang disiarkan Al Jazeera, para pakar mengupas tuntas pola serangan terhadap figur penting Iran. Ross Harrison, salah satu ahli yang terlibat, menegaskan pandangan keras: Israel tampaknya tidak lagi mencari mitra negosiasi. Sebaliknya, tujuan mereka adalah "pemusnahan" atau penghancuran total kepemimpinan Iran.
Narasi ini mengemuka seiring dengan serangkaian insiden penargetan terhadap pejabat militer, ilmuwan nuklir, dan figur penting lainnya di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun berita asli menyebut nama Ali Larijani, konteks diskusi mengacu pada pola yang lebih luas dalam penumpasan kepemimpinan strategis Iran. Analisis ini menyoroti bahwa tindakan tersebut bukan sekadar respons taktis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk melemahkan atau bahkan melumpuhkan kemampuan Iran, baik secara militer maupun politik.
Dampak dari strategi ini sangat signifikan. Bukan hanya memperburuk ketegangan regional yang sudah tinggi, tetapi juga menutup pintu bagi solusi diplomatik. Ketika salah satu pihak secara terang-terangan menyatakan tujuan untuk "menghancurkan" pihak lain, ruang untuk dialog damai menjadi sangat sempit, bahkan nihil. Hal ini berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas, melibatkan aktor-aktor regional dan global, dan membawa stabilitas Timur Tengah ke titik yang lebih rapuh. Masyarakat global pun patut waspada terhadap konsekuensi lanjutan dari strategi "pemusnahan" ini, yang bisa berdampak pada harga minyak, keamanan maritim, hingga arus pengungsi.