Ketegangan di New Delhi memuncak pada Jumat (waktu setempat) setelah gerakan youth-led Cockroach Janta Party (CJP) kembali menggelar aksi protes besar. Unjuk rasa kali ini dipicu oleh penahanan dua aktivis mereka selama lima hari dengan tuduhan pelanggaran masuk area demonstrasi. Otoritas India merespons dengan menutup Central Park—lokasi rencana berkumpul—dengan alasan administratif, serta memasang barikade besi di berbagai persimpangan utama. Ribuan personel polisi tambahan dikerahkan untuk mengawal ibu kota.
Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, menegaskan bahwa pihaknya tidak gentar menghadapi potensi penangkapan. Dalam pernyataan di media sosial, ia menuding pemerintah bersikap munafik, mengingat partai berkuasa saat ini dulunya juga lahir dari budaya protes jalanan. "Jika pembatasan dan intimidasi yang sama diterapkan pada mereka dulu, banyak pejabat saat ini mungkin tidak akan pernah berkuasa," ujarnya.
Gerakan CJP sendiri bukan sekadar aksi sporadis. Sejak Mei, mereka konsisten menuntut reformasi elektoral dan pengunduran diri Komisioner Pemilu Gyanesh Kumar, yang dianggap bertanggung jawab atas penghapusan lebih dari 130 juta nama dari daftar pemilih. Otoritas pemilu beralasan penghapusan itu untuk membersihkan data ganda dan pemilih fiktif, namun CJP mencium indikasi kecurangan.
Analisis & Dampak: Fenomena CJP menjadi cermin kekecewaan Generasi Z India terhadap krisis lapangan kerja dan minimnya prospek masa depan di bawah pemerintahan Narendra Modi. Gelombang protes ini telah memaksa mundurnya menteri pendidikan dan kini menjadi ujian terberat bagi Modi sejak 2014. Bagi masyarakat luas, aksi ini menandakan pergeseran lanskap politik di mana isu anak muda dan integritas pemilu menjadi tekanan politik yang tidak bisa diabaikan.