JANJI 'AMERICA FIRST' TRUMP KINI JADI BEBAN PARTAI REPUBLIK - Berita Dunia
← Kembali

JANJI 'AMERICA FIRST' TRUMP KINI JADI BEBAN PARTAI REPUBLIK

Foto Berita

Washington, DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan menjelang pemilu sela (midterm) November mendatang. Pasalnya, sejumlah isu utama yang dulu mengangkat namanya bersama gerakan MAGA (Make America Great Again) kini justru mulai ditinggalkan oleh Partai Republik.

Dulu, slogan 'Drain the Swamp' (kuras rawa korupsi) dan 'America First' (Amerika Utama) menjadi senjata ampuh Trump untuk meraup suara. Namun, di paruh akhir masa jabatannya, Trump dinilai berbalik arah. Ia kini lebih dekat dengan kelompok ultra-kaya, dianggap mengesampingkan investigasi kasus Jeffrey Epstein, dan justru terlibat dalam perang terbuka dengan Iran.

Perubahan sikap ini memicu efek domino bagi para kandidat Republik di daerah pemilihan yang kompetitif. Rina Shah, mantan ajudan senior kongres dari Partai Republik, mengungkapkan bahwa banyak kandidat kini diam-diam menjauh dari isu-isu kontroversial tersebut.

"Mereka lebih memilih bicara soal harga bensin, isu lokal, atau sekadar bilang 'saya fokus pada dapil saya'," ujar Shah. Menurutnya, isu perang Iran dan file Epstein sudah mulai muncul di iklan serangan lawan dan survei internal.

Terkait kasus Epstein, Trump dulu berjanji akan membuka semua file rahasia FBI. Namun setelah menjabat, ia justru menyebut isu ini sebagai 'hoax' dan menolak investigasi lebih lanjut. Sikap ini memicu perlawanan dari internal partai. Beberapa anggota DPR dari Partai Republik yang nekat mendukung transparansi file Epstein harus menerima konsekuensi politik yang pahit.

Marjorie Taylor Greene memilih mundur dari kursinya di Georgia pada Januari 2026 setelah berselisih dengan Trump. Nancy Mace kalah di pemilihan pendahuluan (primary) karena Trump menolak mendukungnya. Sementara Lauren Boebert dan Thomas Massie nyaris kehilangan kursi karena dianggap membangkang.

Analisis: Situasi ini menunjukkan bahwa pengaruh Trump mulai tergerus di kalangan pemilih moderat, meski basis MAGA masih kuat. Bagi masyarakat AS, ketidakstabilan politik internal ini bisa berdampak pada lambatnya pengesahan kebijakan publik, terutama yang berkaitan dengan ekonomi domestik dan anggaran perang. Pergeseran isu dari 'populisme' ke 'konflik militer' juga menjadi sinyal bahwa prioritas pemerintahan Trump kini menghadapi resistensi dari rakyatnya sendiri yang lelah dengan janji-janji yang tak terealisasi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook