Pemerintah Kuba mengonfirmasi baku tembak sengit antara patroli perbatasan mereka dengan sebuah kapal cepat dari Amerika Serikat (AS) pada Rabu pagi. Insiden berdarah di lepas pantai Cayo Falcones, provinsi Villa Clara, Kuba utara-tengah ini menewaskan empat orang dan melukai enam lainnya dari pihak kapal AS. Kementerian Dalam Negeri Kuba (MININT) menegaskan bahwa kapal cepat berplat Florida itu adalah pihak pertama yang melepaskan tembakan, melukai komandan kapal Kuba, sebelum akhirnya terjadi balasan tembakan.
Identitas penumpang kapal AS dan tujuan mereka hingga kini masih misterius. Namun, Kuba bersikeras ini adalah bagian dari upaya pertahanan kedaulatan nasional mereka. "Kuba menegaskan kembali tekadnya untuk melindungi perairan teritorialnya," demikian bunyi pernyataan resmi MININT, menegaskan bahwa pertahanan nasional adalah pilar fundamental negara Kuba.
Peristiwa ini tentu menambah panas hubungan Kuba dengan AS yang memang sudah tegang selama dua bulan terakhir. Sejumlah kebijakan AS, seperti ancaman tindakan militer di Amerika Latin, upaya destabilisasi di Venezuela, pemotongan suplai uang dan minyak dari Venezuela ke Kuba, hingga embargo minyak pada 29 Januari, telah membuat situasi semakin rumit. Presiden AS Donald Trump bahkan sempat melontarkan pernyataan yang mengindikasikan keinginan AS untuk melihat runtuhnya pemerintahan komunis Kuba. Insiden baku tembak terbaru ini, meski masih dalam penyelidikan, berpotensi memicu ketegangan yang lebih besar di kawasan tersebut dan menguji stabilitas regional.