SERANGAN ISRAEL MAKIN NEKAD, APA KABAR GENCATAN SENJATA? - Berita Dunia
← Kembali

SERANGAN ISRAEL MAKIN NEKAD, APA KABAR GENCATAN SENJATA?

Foto Berita

Wilayah Lembah Bekaa di Lebanon kembali memanas setelah serangkaian serangan udara Israel pada Kamis lalu. Satu orang dilaporkan tewas, yakni seorang remaja Suriah berusia 16 tahun bernama Hussein Mohsen al-Khalaf, dan 29 warga lainnya mengalami luka-luka. Korban tewas ini jatuh akibat serangan di Kfar Dan dekat Baalbek.

Menurut laporan kantor berita NNA Lebanon, setidaknya 13 serangan udara terjadi, menyasar beberapa titik seperti Shmestar, Boudai, Harbata, serta pegunungan Hermel dan Nabi Chit. Serangan ini juga merusak sejumlah toko di Baalbek Souk, Tallet al-Ajami, menambah kerugian materi bagi warga.

Pihak militer Israel mengakui serangan tersebut, mengklaim bahwa targetnya adalah delapan kamp milik unit operasi khusus Hezbollah, Pasukan Radwan. Mereka menuduh kamp-kamp itu digunakan untuk menyimpan senjata, rudal, dan sebagai lokasi pelatihan dalam persiapan 'situasi darurat dan rencana plot terorisme'. Israel menyebut aktivitas ini sebagai pelanggaran kesepahaman antara kedua negara.

Ironisnya, serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak November 2024 antara Israel dan kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, yang bertujuan mengakhiri lebih dari setahun konflik. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. PBB mencatat, sejak gencatan senjata itu, lebih dari 300 orang tewas, termasuk 127 warga sipil, menunjukkan rapuhnya kesepakatan damai yang ada.

Bukan kali ini saja pelanggaran terjadi. Minggu lalu, setidaknya 12 orang tewas dalam serangan Israel di Lembah Bekaa dan kamp pengungsi Palestina Ein el-Hilweh. Pemerintah Lebanon bahkan sudah melayangkan aduan resmi ke PBB pada Januari, merinci 2.036 pelanggaran Israel antara Oktober hingga Desember tahun sebelumnya. Lebanon mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memaksa Israel menghentikan tindakan ini dan menarik diri sepenuhnya dari perbatasan mereka.

Hingga kini, Israel masih menduduki sebagian wilayah Lebanon, menghambat upaya rekonstruksi desa-desa perbatasan dan mencegah warga kembali ke rumah mereka. Sementara itu, pemerintah Lebanon menyatakan hampir merampungkan komitmen perlucutan senjata Hezbollah di selatan Sungai Litani, dan butuh empat bulan lagi untuk fase kedua. Namun, Hezbollah menolak klaim ini, menyatakan kesepakatan perlucutan senjata hanya berlaku di wilayah selatan sungai tersebut. Kondisi ini memperlihatkan kompleksitas dan potensi eskalasi konflik yang bisa berdampak luas pada stabilitas regional serta kesejahteraan masyarakat sipil.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook