KINSHASA - Mantan Presiden Republik Demokratik Kongo (DRK), Joseph Kabila, akhirnya membuka kartu. Setelah bertahun-tahun dituding mendalangi kelompok bersenjata, ia resmi mendeklarasikan aliansi politik-militer baru bernama Front pour la Refondation de la Nation (FRN). Langkah ini diambil Kabila dari kediamannya di Goma, sebuah wilayah yang saat ini menjadi basis kekuatan pemberontak M23.
FRN dibentuk untuk menggantikan aliansi M23-AFC yang selama ini bertempur melawan pasukan pemerintah. Juru bicara koalisi, Claude Ibalanky, menyatakan bahwa tujuan aliansi ini adalah untuk 'mengakhiri tirani dengan segala cara, termasuk menggunakan kekuatan bersenjata'. Pernyataan ini jelas menjadi ancaman serius bagi pemerintahan Presiden Felix Tshisekedi di Kinshasa.
Struktur kepemimpinan FRN diisi oleh nama-nama kunci dari kubu pemberontak. Kabila akan bertindak sebagai pemimpin utama, didampingi Corneille Nangaa (mantan komisioner pemilu) sebagai wakil, serta Bertrand Bisimwa dari M23. Kursi Sekretaris Jenderal dipegang oleh Freddy Kaniki, sementara posisi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Aliansi dipercayakan kepada Sultani Makenga, tokoh militer M23.
Langkah Kabila ini membenarkan tudingan lama pemerintah DRK yang menuduhnya memiliki hubungan dengan kelompok bersenjata. Sebelumnya, pada tahun lalu, Kabila bahkan telah divonis mati secara in absentia oleh pengadilan militer karena tuduhan serupa. Krisis di wilayah timur DRK yang kaya mineral ini telah berlangsung hampir 15 tahun, menyebabkan lebih dari 7,8 juta orang mengungsi dan 28 juta lainnya terancam kelaparan.
Analisis Dampak: Bergabungnya Kabila memberikan legitimasi politik dan potensi kekuatan militer baru bagi pemberontak. Hal ini diprediksi akan memperpanjang konflik dan mempersulit upaya diplomasi perdamaian. Masyarakat sipil di Kivu Utara dan Selatan menjadi pihak paling rentan, menghadapi risiko kekerasan yang meningkat dan krisis kemanusiaan yang semakin dalam. Pemerintah Tshisekedi kini menghadapi tekanan ganda: konflik bersenjata di lapangan dan ancaman delegitimasi politik dari pendahulunya.