TEHERAN, IRAN – Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah serangan udara Amerika Serikat (AS) menghantam wilayah Iran. Ketegangan ini dipicu oleh serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di jalur pelayaran strategis tersebut, yang memaksa mediator internasional bekerja keras mencegah konflik terbuka antara kedua negara.
Menurut laporan, dua proyektil menghantam Pulau Qeshm pada Jumat malam, melanjutkan serangkaian serangan udara sebelumnya yang menyasar pertahanan udara dan peluncur roket Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut aksi militernya sebagai "serangan kecil", meski kekhawatiran akan eskalasi perang besar-besaran terus meningkat.
Iran tidak tinggal diam. Militer Iran mengklaim telah menghancurkan drone MQ-9 buatan AS menggunakan sistem pertahanan baru yang belum diungkap namanya. Garda Revolusi Iran (IRGC) juga melaporkan telah mencegat drone MQ-1, menandai pesawat ke-16 dari model tersebut yang dihancurkan sejak konflik dimulai.
Dampak pada jalur pelayaran sangat signifikan. Data UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat setidaknya 11 kapal diserang di sekitar Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 6 November, dengan tiga di antaranya tenggelam. Aktivitas pelayaran di selat vital ini anjlok drastis hingga 65 persen dari level sebelum konflik, dengan banyak kapal mematikan transponder untuk menghindari deteksi.
Yang paling mengkhawatirkan, IRGC menyatakan telah mencabut batasan jangkauan misil balistiknya yang sebelumnya dibatasi 2.000 kilometer. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menegaskan bahwa pembatasan itu kini "telah dicabut" atas perintah Pemimpin Tertinggi, sebagai respons terhadap ancaman AS dan Israel. Iran juga memperingatkan risiko ranjau laut bagi kapal yang melewati rute tidak resmi.