EDMONTON - Warga Alberta, Kanada, baru saja menggelar voting untuk menentukan apakah provinsi kaya minyak itu akan memisahkan diri dari Kanada atau tetap bergabung. Hasilnya cukup mengejutkan: mayoritas besar memilih untuk tetap menjadi bagian dari Kanada.
Berdasarkan data dari Elections Alberta, lebih dari dua pertiga suara masuk memilih opsi bertahan dalam federasi Kanada, menolak proposal referendum pemisahan diri. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyambut baik hasil ini dan menyebutnya sebagai 'hasil yang luar biasa bagi Kanada'.
Voting ini sendiri dipicu oleh petisi warga yang berhasil mengumpulkan sekitar 300.000 tanda tangan, meski sempat diblokir pengadilan karena alasan konsultasi dengan masyarakat adat First Nations. Perdana Menteri Alberta, Danielle Smith, yang sebenarnya menentang pemisahan, tetap menggelar voting karena tekanan publik yang kuat.
Isu utama kaum separatis adalah kebijakan lingkungan pemerintah pusat di Ottawa yang dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi provinsi penghasil minyak tersebut. Namun, kubu persatuan menekankan pentingnya Kanada tampil solid menghadapi tekanan eksternal, termasuk perang dagang dengan Amerika Serikat.
Meski kalah telak, pemimpin separatis Jeffrey Rath tetap bersikukuh. Ia menyebut hasil ini sebagai 'langkah pertama' dan menegaskan gerakan mereka belum berhenti. 'Kenapa tidak?' ujarnya saat ditanya apakah akan terus menggelar voting hingga mendapat hasil yang diinginkan.