Provinsi Balochistan di Pakistan bagian barat daya kembali memanas. Pada 31 Januari lalu, serangkaian serangan terkoordinasi mengguncang hampir selusin kota. Kelompok separatis, yang dipimpin oleh Baloch Liberation Army (BLA), melancarkan serangan yang menewaskan lebih dari 30 warga sipil dan sedikitnya 18 personel penegak hukum. Tak lama berselang, pasukan keamanan Pakistan merespons dengan operasi yang menewaskan lebih dari 150 pejuang separatis.
Kekerasan ini bukanlah hal baru bagi Balochistan, provinsi terbesar di Pakistan yang kaya mineral namun paradoksnya menjadi yang termiskin. Konflik di wilayah ini sudah berlangsung sejak Balochistan resmi bergabung dengan Pakistan pada 1948, setahun setelah kemerdekaan negara itu. Hubungan Balochistan dengan negara pusat selalu diwarnai ketegangan, berakar dari apa yang dianggap nasionalis Baloch sebagai 'aksesi paksa'.
Sejak itu, polanya berulang: pengucilan politik memicu perlawanan bersenjata, yang kemudian direspons militer. Setelah ketenangan sesaat, siklus kekerasan kembali terulang. Faktor-faktor pemicunya beragam, mulai dari warisan kolonial Inggris, posisi strategis pesisir Balochistan sebagai gerbang menuju Selat Hormuz, hingga janji-janji kemakmuran yang tak kunjung terealisasi bagi penduduk lokal.
Baru-baru ini, gejolak kian intens karena proyek ambisius Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan (CPEC) yang merupakan bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok (BRI). Meskipun CPEC membawa investasi infrastruktur besar ke Balochistan, banyak penduduk lokal merasa keuntungan tersebut tidak sampai ke mereka, bahkan justru memperburuk kondisi dan memicu rasa ketidakadilan serta eksploitasi sumber daya alam mereka. Hal ini menambah lapisan kompleksitas pada konflik yang sudah berlangsung lama.
Sarfraz Bugti, Kepala Menteri Balochistan, bahkan secara terang-terangan menyatakan bahwa solusi bagi masalah provinsi ini ada di tangan militer, bukan melalui dialog politik. Pandangan ini, menurut para analis, justru berpotensi memperpanjang siklus kekerasan dan semakin menjauhkan prospek perdamaian yang berkelanjutan bagi Balochistan.