RUSIA TEKAN ARMENIA, ANCAM 'SKENARIO UKRAINA' - Berita Dunia
← Kembali

RUSIA TEKAN ARMENIA, ANCAM 'SKENARIO UKRAINA'

Foto Berita

YEREVAN, ARMENIA – Ketegangan antara Rusia dan Armenia memanas setelah Kremlin secara terang-terangan menekan negara bekas sekutunya itu untuk memilih antara blok ekonomi pimpinan Moskow atau bergabung dengan Uni Eropa. Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, dengan tegas menolak tuntutan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera menggelar referendum keluar dari Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).

Penolakan ini disampaikan Pashinyan pada Senin, tepat saat Putin meneleponnya dengan dalih mengucapkan selamat ulang tahun. Dalam pernyataannya, Pashinyan menyebut tuntutan Moskow sebagai sesuatu yang 'tidak masuk akal'. Kremlin menganggap keanggotaan ganda di EAEU dan Uni Eropa adalah mustahil.

Puncak ketegangan terjadi di KTT EAEU di Kazakhstan pada 29 Mei lalu. Putin bersama pemimpin Belarus, Kazakhstan, dan Kirgistan mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak Armenia mengadakan referendum 'sesegera mungkin'. Putin bahkan melontarkan ancaman terselubung dengan memperingatkan Armenia agar tidak melanjutkan ambisi Baratnya, seraya menyinggung bahwa 'skenario Ukraina' dimulai dari keinginan Kyiv bergabung dengan UE.

Menanggapi tekanan itu, Pashinyan dalam pidato video menyatakan pemerintahannya akan tetap bekerja di dalam EAEU sampai pilihan antara dua blok itu 'menjadi tidak terhindarkan'. Dia menilai mengadakan referendum untuk pilihan yang masih teoretis adalah tindakan yang tidak masuk akal dan tidak bijaksana.

Tekanan ekonomi pun semakin nyata. Moskow menarik duta besarnya untuk konsultasi dan melarang impor ikan serta makanan laut dari Armenia. Langkah ini menjadi pukulan telak karena 30 persen ekspor sektor perikanan Armenia bergantung pada pasar Rusia. Sebelumnya, Rusia juga sudah melarang impor produk pertanian, bunga, air mineral, dan alkohol Armenia—taktik klasik Moskow untuk 'menghukum' negara eks-jajahannya yang dianggap membangkang.

Uni Eropa langsung mengecam langkah Rusia dan menuduh Kremlin sengaja melumpuhkan ekonomi Armenia untuk mempengaruhi hasil pemilihan parlemen yang akan digelar pada 7 Juni mendatang. Hubungan kedua negara semakin renggang sejak Rusia gagal mengintervensi saat Azerbaijan melancarkan operasi militer di Nagorno-Karabakh pada 2023, yang membuat Armenia kehilangan kendali atas wilayah sengketa tersebut. Proses menjauhnya Armenia dari Rusia pun semakin cepat setelah Moskow menginvasi Ukraina pada Februari 2022.

Analisis: Langkah Rusia ini menunjukkan pola yang sama seperti saat menekan Ukraina pada 2013-2014, yakni menggunakan senjata ekonomi dan ancaman militer untuk mencegah negara tetangganya bergabung dengan Barat. Bagi Armenia, situasi ini sangat dilematis. Di satu sisi, mereka butuh pasar Rusia untuk bertahan hidup. Di sisi lain, keamanan mereka terancam jika terlalu bergantung pada Moskow yang dianggap tidak bisa diandalkan. Jika tekanan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Armenia akan mengambil langkah nekat seperti yang dilakukan Ukraina, yang justru berakhir dengan invasi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook