Jakarta - Presiden El Salvador, Nayib Bukele, resmi meluncurkan operasi militer untuk membebaskan empat tentaranya yang diculik kelompok geng di Haiti. Dalam pernyataan tegasnya di media sosial X, Bukele mengultimatum para penculik agar segera membebaskan keempat personel tersebut dalam keadaan selamat.
"Jangan menganggap ancaman kami sebagai gertakan kosong," tulis Bukele, seperti dikutip dari Al Jazeera. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah menuntaskan masalah geng di negaranya sendiri dan siap melakukan hal yang sama di Haiti jika nyawa anak buahnya terancam.
Keempat tentara tersebut merupakan teknisi penerbangan yang tergabung dalam Pasukan Penindas Geng (GSF) bentukan PBB. Mereka hilang setelah kendaraan lapis baja yang mereka tumpangi diserang dan dibakar oleh geng di area Santo, Croix-des-Bouquets, Port-au-Prince, Minggu lalu. Insiden ini menjadi serangan besar pertama sejak pasukan internasional mulai beroperasi tahun lalu.
Pemerintah Haiti melalui kantor Perdana Menteri menyatakan pembebasan para tentara adalah "prioritas absolut". Mereka tengah menggelar rapat darurat untuk mengevaluasi intervensi dan memperkuat operasi bersama pasukan penindas geng. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai kondisi terkini para sandera.
Analisis Dampak: Langkah agresif Bukele ini menjadi ujian nyata bagi efektivitas misi PBB di Haiti. Jika operasi militer El Salvador ini sukses, hal ini bisa menjadi preseden bagi negara lain dalam menghadapi kekuatan geng yang menguasai 70 persen ibu kota Port-au-Prince. Namun, eskalasi militer berisiko memicu pertempuran urban yang lebih luas, mengingat data PBB mencatat lebih dari 1,5 juta warga Haiti telah mengungsi akibat kekerasan geng dalam beberapa tahun terakhir.