MUKALLA, YAMEN — Di tengah reruntuhan perang dan ekonomi yang lumpuh, Adel Mohsen (56) tetap setia menonton Piala Dunia. Ia sudah menyaksikan setiap edisi sejak 1982. Namun, tahun ini mungkin menjadi ujian terberatnya.
Pemadaman listrik dan kelangkaan bahan bakar di Mukalla, Yaman timur, membuatnya kesulitan. Baterai cadangan motornya rusak, dan ia tak punya uang untuk menggantinya. Biaya berlangganan televisi lokal pun sudah menguras kantongnya.
Dengan pasrah, Adel bergantung pada layar raksasa di stadion lokal yang diterangi genset. Meski terbatas, ia tetap menganalisis pertandingan seperti seorang komentator. 'Saya menonton dengan mata analis, bukan sekadar penggemar,' ujarnya kepada Al Jazeera.
Kisah Adel adalah potret nyata bagaimana kegilaan sepak bola bisa bertahan di tengah puing-puing perang saudara yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Di Yaman, Piala Dunia bukan sekadar tontonan, melainkan pelarian singkat dari realitas pahit kelaparan dan konflik.
Dampak sosialnya jelas: olahraga tetap menjadi perekat komunitas, meski dalam kondisi paling sulit sekalipun. Namun, ini juga menjadi kritik bisu terhadap kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan di Yaman, di mana akses ke hiburan dasar menjadi kemewahan yang tak terjangkau.