NANYUKI, KENYA — Rencana pembangunan pusat karantina Ebola milik Amerika Serikat di pangkalan udara Laikipia, Nanyuki, berubah menjadi kontroversi politik paling panas di Kenya tahun ini. Protes warga yang menolak fasilitas tersebut telah menewaskan tiga orang, termasuk seorang pelajar berusia 17 tahun.
Fasilitas 50 tempat tidur ini dirancang untuk mengkarantina warga AS yang diduga terpapar Ebola saat wabah di Afrika Timur dan Tengah. Namun, warga setempat melihatnya bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan simbol keterasingan tanah dan pengaruh asing yang sudah lama mengakar.
Laikipia memiliki sejarah kelam era kolonial Inggris. Sebagian besar wilayah ini dulunya adalah 'White Highlands', tanah subur yang dikhususkan untuk pemukim Eropa. Enam dekade setelah merdeka, keturunan pemukim itu masih memiliki peternakan dan kawasan konservasi luas, sementara sengketa tanah dengan masyarakat adat Maasai dan Samburu tak kunjung selesai.
Protes ini juga memicu kembali memori pahit, seperti penembakan terhadap konservasionis Italia-Kenya, Kuki Gallmann, pada 2021 lalu. Saat itu, kekeringan parah memaksa penggembala masuk ke lahannya yang luas untuk mencari air dan rumput, memicu bentrok berdarah. Bagi banyak warga, pusat karantina AS ini dianggap sebagai pengambilalihan tanah baru dengan kedok kemanusiaan.
Gugatan hukum kini telah menghentikan pembangunan. Isu kedaulatan, partisipasi publik, dan sejarah kolonialisme kembali mendominasi perdebatan publik di Kenya.