ASHGABAT - Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Turkmenistan pada Kamis (10/10) waktu setempat. Pertemuan ini berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Commonwealth of Independent States (CIS), organisasi negara-negara bekas Uni Soviet.
Dalam pertemuan tersebut, Putin menyatakan komitmennya untuk membantu Iran menyelesaikan konflik yang dipicu oleh Amerika Serikat. "Kami siap melakukan segala hal untuk membantu Anda menyelesaikan situasi ini," ujar Putin kepada Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita Interfax.
Putin juga menegaskan bahwa Iran berusaha keras mengakhiri konflik yang menurutnya bukan kesalahan Teheran. Ia menyebut hubungan Rusia-Iran mengalami "evolusi positif" dalam beberapa waktu terakhir.
Sebelumnya, dalam panggilan telepon pada Rabu (9/10), Putin menyampaikan kesiapan Moskow untuk menjadi mediator dalam upaya mengakhiri perang di Timur Tengah. Hal ini dikonfirmasi oleh kantor berita IRNA milik Iran.
Hubungan Rusia dan Iran semakin erat di tengah sanksi berat dari negara-negara Barat. Kedua negara diketahui telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada tahun lalu, mencakup kerja sama perdagangan, militer, ilmu pengetahuan, hingga pendidikan.
Namun, Ukraina dan negara-negara Barat menuduh Iran memasok drone Shahed dan rudal jarak pendek ke Rusia untuk digunakan dalam perang Ukraina. Rusia juga dituduh memberikan data intelijen kepada Iran untuk serangan terhadap target AS di Timur Tengah.
Pertemuan ini terjadi saat perundingan Iran-AS berada di titik buntu. Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Kamis bahwa negaranya tidak akan melancarkan serangan ke Iran sebelum pemilihan kongres 3 November mendatang, dan mengklaim kedua negara sedang melakukan pembicaraan "produktif".
Analisis Dampak: Pertemuan ini memperkuat poros Rusia-Iran sebagai kekuatan penyeimbang dominasi AS di Timur Tengah. Bagi masyarakat global, aliansi ini berpotensi memperpanjang ketegangan geopolitik dan memengaruhi harga minyak dunia. Sementara bagi Indonesia, dinamika ini perlu dicermati karena berdampak pada stabilitas kawasan dan kebijakan luar negeri yang bebas aktif.