Jakarta, Media Online – Perang saudara yang berkecamuk di Sudan selama lebih dari tiga tahun telah mengubah total komposisi penduduk negara tersebut. Menteri Sumber Daya Manusia dan Pembangunan Sosial Sudan, Mutasim Ahmed Saleh, mengungkapkan bahwa konflik antara tentara nasional dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang dimulai pada April 2023 ini telah 'membentuk ulang secara mendalam' peta demografi negeri itu.
Dampaknya sangat mengerikan. Perang ini diperkirakan telah merenggut nyawa sekitar 200.000 orang. Lebih dari 11 juta jiwa terpaksa mengungsi, menjadikannya krisis kemanusiaan terbesar di dunia versi PBB. Bukan hanya perpindahan massal di dalam negeri, seperti di Darfur Selatan, Utara, dan Tengah, puluhan ribu lainnya juga menjadi pengungsi di negara tetangga seperti Mesir, Sudan Selatan, dan Chad.
Menurut Saleh, perubahan demografis yang paling terasa adalah meroketnya angka kemiskinan, hilangnya sumber pendapatan sebagian besar warga, ambruknya layanan dasar di berbagai daerah, serta hancurnya pasar tenaga kerja. Padahal, sebelum perang, Sudan memiliki populasi muda yang besar—sekitar 70 persen warganya berusia di bawah 30 tahun. Kelompok usia ini seharusnya menjadi 'bonus demografi' yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi kini justru terancam putus sekolah dan kehilangan pekerjaan.
Pemerintah Sudan berjanji akan memperkuat program perlindungan sosial, memulangkan pengungsi secara sukarela, dan membangun kembali sumber daya manusia sebagai fondasi pemulihan nasional. Namun, para pengamat menilai bahwa tanpa gencatan senjata yang permanen, rencana ini hanya akan menjadi mimpi. Investasi pada manusia, seperti kata Saleh, memang merupakan kunci masa depan Sudan, tapi sulit diwujudkan di tengah kobaran api perang.