Iran kini berada dalam tekanan ganda. Di tengah negosiasi dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang tiga bulan terakhir, negara itu justru menghadapi krisis air yang semakin akut. Bukan hanya karena kekeringan bertahun-tahun, tetapi serangan AS dan Israel terhadap infrastruktur air seperti pabrik desalinasi dan pipa air memperburuk situasi.
Berdasarkan data World Resources Institute, tingkat stres air Iran masuk kategori 'sangat ekstrem'. Artinya, negara itu menggunakan lebih dari 80 persen pasokan air terbarukan setiap tahunnya. Pada November 2025, Iran mengalami krisis air terburuk dalam beberapa dekade setelah lima tahun kekeringan berturut-turut. Bendungan Amir Kabir di Teheran hanya terisi 8 persen, sementara 19 bendungan besar lainnya benar-benar kering.
Presiden Masoud Pezehkian sempat memperingatkan evakuasi Teheran jika hujan tak turun hingga Desember. Meski evakuasi terhindar, krisis ini memicu protes besar pada Desember 2025 dan Januari 2026 akibat memburuknya kondisi hidup dan inflasi. Protes serupa juga pernah terjadi di Provinsi Khuzestan pada 2021 dan 2018 karena tuduhan salah urus air oleh pemerintah.
Penyebab krisis ini kompleks: perubahan iklim, praktik pertanian boros air, penggunaan sumur berlebihan, dan tata kelola yang buruk. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran memprioritaskan swasembada pangan, termasuk menanam padi di daerah kering. Kebijakan ini menyedot 90 persen konsumsi air nasional. Subsidi air dan listrik yang murah justru mendorong irigasi berlebihan. Sanksi internasional juga menghambat modernisasi infrastruktur air.
Sungai Zayandeh Rud di Provinsi Isfahan, yang dulu menjadi simbol kesuburan, kini mengering hampir sepanjang tahun. Ini menjadi contoh nyata bagaimana krisis air tak lagi hanya soal alam, tapi juga kegagalan kebijakan dan dampak perang.