Seorang warga Guatemala, Rigoberto Ramon Miranda-Orozco (39), divonis 30 tahun penjara oleh Pengadilan Federal Amerika Serikat. Ia terbukti bersalah dalam kasus penyelundupan manusia yang menewaskan 53 migran pada Juni 2022. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling mematikan di perbatasan AS-Meksiko dalam sejarah modern.
Kasus ini bermula saat sebuah truk trailer ditemukan terparkir di pinggiran San Antonio, Texas. Di dalamnya, 64 migran terjebak dalam kondisi mengenaskan. Sistem pendingin udara (AC) truk dilaporkan mati total, sementara suhu luar mencapai 32 derajat Celsius. Akibatnya, 48 orang tewas di lokasi kejadian, dan 5 lainnya meninggal di rumah sakit akibat dehidrasi parah dan serangan panas. Korban terdiri dari enam anak-anak dan seorang wanita hamil.
Jaksa mengungkap fakta mengerikan dari olah TKP. Ditemukan bekas cakaran di dinding bagian dalam trailer, menandakan para korban berusaha mati-matian menerobos keluar. Beberapa korban ditemukan sudah melepas pakaian mereka karena kepanasan. Miranda-Orozco diketahui bertugas mengatur perjalanan dan akomodasi bagi para korban yang membayar mahal, mencapai 15.000 dolar AS per orang, untuk bisa masuk ke AS secara ilegal.
Vonis ini merupakan bagian dari operasi besar-besaran penegakan hukum lintas negara. Selain Miranda-Orozco, otak sindikat, Felipe Orduna-Torres, telah divonis penjara seumur hidup. Asistennya, Armando Gonzales-Ortega, diganjar 83 tahun penjara. Hingga kini, pihak berwenang masih memburu dan memproses hukum pihak-pihak lain yang terlibat, termasuk sang sopir truk.