Jakarta, Media Online – Ketegangan di Teluk kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Bahrain dan Kuwait. Amerika Serikat (AS) langsung bereaksi dengan melancarkan serangan 'bela diri' ke Pulau Qeshm, basis militer Iran. Kondisi ini terjadi di tengah negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran yang mandek.
Menurut Kantor Berita Kuwait, KUNA, Bandara Internasional Kuwait dihantam drone dan rudal pada Rabu pagi. Akibatnya, sejumlah fasilitas bandara rusak parah, penerbangan dialihkan, dan beberapa orang dilaporkan terluka. Otoritas Penerbangan Sipil setempat memastikan serangan itu memaksa pengalihan rute pesawat ke lokasi alternatif.
Sementara itu, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengklaim berhasil menggagalkan serangan Iran di Bahrain. Dua rudal Iran yang ditembakkan ke Kuwait gagal mencapai sasaran dan hancur di tengah jalan. Tiga rudal lain yang diarahkan ke Bahrain berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara AS dan Bahrain.
“Semua serangan Iran terhadap pasukan Amerika gagal,” tegas CENTCOM dalam pernyataan resminya. Sebaliknya, Garda Revolusi Iran (IRGC) justru mengklaim telah menghantam markas Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan udara di kawasan tersebut. Klaim ini langsung dibantah keras oleh CENTCOM sebagai 'PALSU'.
Sebagai balasan, AS menyerang sebuah stasiun kendali darat militer Iran di Pulau Qeshm. CENTCOM memastikan tidak ada personel AS yang terluka dalam misi tersebut. Serangan ini disebut sebagai bentuk bela diri atas agresi yang dilakukan Iran sebelumnya.
Analisis Dampak: Eskalasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada klaim negosiasi dari Presiden AS Donald Trump, di lapangan situasi justru semakin panas. Masyarakat di kawasan Teluk, termasuk warga negara asing dan pekerja migran, kini berada dalam risiko tinggi. Gangguan penerbangan di Kuwait menjadi indikator nyata bahwa konflik ini tidak hanya soal militer, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi dan mobilitas warga sipil. Jika negosiasi terus gagal, bukan tidak mungkin krisis ini akan meluas dan memicu kenaikan harga minyak global.