Eropa kembali dihantui ancaman krisis energi parah, kali ini akibat konflik yang memanas di Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan dan lonjakan harga energi, mengingatkan pada kejadian setelah perang di Ukraina, namun dengan potensi dampak yang lebih buruk.
Konflik yang berlarut-larut di Iran berpotensi mengganggu jalur pasokan energi vital melalui Selat Hormuz. Padahal, Eropa baru saja berupaya keras mendiversifikasi sumber energi dan membangun banyak terminal LNG untuk mengurangi ketergantungannya pada Rusia pasca-invasi ke Ukraina. Kini, mereka dihadapkan pada tantangan baru yang tidak kalah genting.
Masalahnya semakin pelik karena cadangan gas di Uni Eropa saat ini tergolong rendah. Ini berarti negara-negara Eropa akan bersaing ketat dengan pasar Asia untuk mengisi kembali tangki penyimpanan gas mereka, yang sudah pasti akan mendorong harga LNG meroket lebih tinggi lagi. Imbasnya, tagihan listrik rumah tangga akan membengkak dan sektor industri terancam lumpuh.
Pemerintah di berbagai negara Eropa kini sedang berupaya keras meredam dampak buruk krisis ini. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran minyak dan gas terpenting di dunia. Jika terjadi gangguan serius di sana, tidak hanya Eropa yang merasakan dampaknya, tetapi juga berpotensi memicu gejolak harga energi global dan inflasi yang lebih luas di seluruh dunia. Upaya diversifikasi Eropa, meski sudah dilakukan, ternyata belum cukup ampuh melindungi mereka dari guncangan geopolitik yang terus berulang.