ZAPORIZHZHIA, UKRAINA – Kota yang dulu dikenal sebagai tempat berlindung kini berubah menjadi medan paling berbahaya. Dalam serangan udara paling mematikan tahun ini, sembilan bom luncur Rusia menghantam Kota Komyshuvakha pada 2 November lalu, menewaskan sedikitnya 50 orang. Korban tewas mayoritas adalah warga sipil yang tengah berkumpul untuk menerima bantuan kemanusiaan di sebuah sekolah setempat. Hingga kini, sejumlah orang masih dinyatakan hilang dan dikhawatirkan tewas tertimbun reruntuhan bangunan.
Ancaman tidak hanya datang dari udara. Drone First-Person View (FPV) milik Rusia kini merajalela, memburu kendaraan dan warga sipil di jalanan. Volodymyr, seorang warga Desa Preobrazhenka, menceritakan pengalaman mencekamnya. Saat itu, ia dan warga lain bersembunyi di ruang bawah tanah ketika drone mulai membombardir pemukiman mereka. "Hanya tersisa delapan orang di kampung saya sebelum akhirnya saya memutuskan pergi," ujarnya sambil menunjukkan luka bakar parah di tangannya.
Pemerintah setempat berupaya keras melindungi warga. Di kawasan Cosmos, jaring-jaring anti-drone dipasang di atas jalan dan fasilitas umum. Namun, fakta di lapangan menunjukkan betapa sulitnya membendung gempuran. Jendela-jendela yang dipaku papan dan bangunan yang hancur menjadi saksi bisu ganasnya perang. Otoritas militer setempat mengaku tengah menyiapkan relokasi tempat penampungan bagi para pengungsi jika situasi semakin memburuk.
Dampak kemanusiaan semakin pelik. Banyak pengungsi yang merupakan lansia atau memiliki keterbatasan mobilitas. Sebagian dari mereka bahkan kehilangan dokumen penting, sehingga menyulitkan proses evakuasi. Alina, seorang pekerja toko bunga yang berjualan di bawah jaring pelindung drone, mengaku mendengar suara dengung drone hampir setiap hari. "Tentu saja saya mungkin harus pergi, tapi saya tidak ingin," katanya pasrah, berharap perang segera usai dan ia bisa kembali ke rumahnya.