Ketegangan di Kota Tua Hebron, Tepi Barat, kembali memanas. Pemukim Israel terus memperluas keberadaan mereka dengan mendirikan struktur prefabrikasi di atas atap bangunan milik warga Palestina. Salah satu korban adalah Yusef al-Khatib (65), pemilik toko penjahit warisan ayahnya sejak 80 tahun lalu. Kini, atap tokonya telah berubah menjadi pos pemukim ilegal yang mengancam kelangsungan usahanya.
Yusef mengaku telah bekerja di toko tersebut sejak usia lima tahun. Baginya, toko itu adalah sumber kehidupan keluarganya. "Toko ini adalah mata pencaharian saya dan keluarga saya. Ini memungkinkan saya membesarkan anak-anak dan menyekolahkan mereka," ujarnya kepada Al Jazeera.
Kehadiran pemukim di Kota Tua Hebron sebenarnya bukan hal baru sejak 1978. Namun, perluasan agresif terus terjadi. Saat ini, sekitar 500 pemukim tinggal di area tersebut, meskipun keberadaan mereka ilegal menurut hukum internasional. Pada 29 Oktober lalu, pemukim menempatkan struktur mobile di atap gedung-gedung komersial, termasuk di atas toko Yusef, yang diperkirakan akan menampung 20 unit pemukim baru.
Dampak bagi masyarakat sangat luas. Bader al-Daour al-Tamimi, pedagang lain yang memiliki empat anak kuliah, mengaku khawatir kehilangan akses ke tokonya. Para pemilik toko hidup dalam ketidakpastian, karena ancaman dari pemukim dan tentara membuat mereka tidak tahu apakah bisa membuka usaha esok hari. Penutupan Jalan Shuhada sejak 1994 silam juga masih membatasi mobilitas warga Palestina, memisahkan mereka dari area komersial utama.
Analisis singkat: Ekspansi pemukiman di jantung kota tua ini bukan sekadar isu properti, melainkan upaya sistematis untuk mengubah demografi dan karakter kawasan. Jika dibiarkan, hal ini berpotensi memicu konflik horizontal yang lebih besar dan mematikan roda perekonomian warga lokal yang sudah terpuruk.