Warga Afrika Selatan mulai menyalurkan suara mereka dalam pemilihan lokal yang berlangsung ketat. Lebih dari 500 partai politik bersaing memperebutkan kursi di hampir 300 kotamadya yang bertanggung jawab atas layanan dasar seperti air, listrik, dan pengangkutan sampah.
Gelaran ini menjadi ajang pembuktian bagi African National Congress (ANC). Partai yang telah lama berkuasa sejak berakhirnya apartheid pada 1994 itu kini menghadapi tekanan besar. Pada pemilu nasional terakhir, ANC untuk pertama kalinya kehilangan mayoritas parlemen. Dukungan mereka merosot tajam dari 70% pada 2004 menjadi hanya 40% dua dekade berselang.
Penurunan popularitas ANC tak lepas dari kemarahan publik terhadap tingginya angka korupsi, pengangguran, dan kriminalitas. Meski begitu, Presiden Cyril Ramaphosa membantah partainya sedang dalam jurang kehancuran. Ia justru mengklaim dukungan terhadap ANC terus meningkat menjelang hari pencoblosan.
Di kawasan pemukiman seperti Alexandra, Johannesburg, basis massa tradisional ANC mulai tergerus. Warga mengeluhkan buruknya tata kelola pemerintahan dan minimnya layanan publik. Sampah menumpuk di jalanan, sementara jalan berlubang dan aliran air kotor menjadi pemandangan sehari-hari.
Sentimen apatisme juga melanda pemilih muda. Banyak warga yang enggan mencoblos karena menilai tidak ada perubahan signifikan. Namun, sebagian pemilih pemula tetap optimis bahwa suara mereka bisa membawa perbaikan bagi lingkungan sekitar.