Seorang mantan perwira kelompok bersenjata FDLR akhirnya memilih pulang ke Rwanda setelah bertahun-tahun hidup dalam pelarian. Jean Claude Hategekimana, pria kelahiran 1996, meninggalkan kelompok itu dan menyerahkan diri pada 24 Februari lalu. Ia tiba di Pusat Demobilisasi dan Reintegrasi Mutobo, Musanze, Rwanda Utara, untuk memulai hidup baru sebagai warga sipil.
Hategekimana bergabung dengan FDLR pada 2018, menjalani latihan militer, dan sempat menyandang pangkat kapten. Ia mengaku ikut bertempur membela Goma sebelum akhirnya kalah dan melarikan diri ke Masisi. Di tengah pelarian, ia sadar selama ini berjuang tanpa tujuan jelas. "Saya datang ke Mutobo setelah bertempur membela Goma. Setelah kekalahan, saya lari ke Masisi. Setelah sadar saya berjuang untuk sesuatu yang sia-sia, saya memutuskan pulang ke Rwanda," ujarnya kepada Al Jazeera.
Selama bertahun-tahun, FDLR menanamkan keyakinan menakutkan: siapa pun yang kembali ke Rwanda akan dibunuh. Hategekimana mengaku sempat percaya. "Saat tiba di Rwanda, saya baru sadar FDLR selama ini membohongi kami. Bagi saya, pulang ke rumah rasanya seperti misi bunuh diri," katanya. Kenyataannya, ia diterima dan kini menjalani program rehabilitasi.
Pusat Mutobo berdiri sejak 2001 untuk menampung anggota FDLR dan kelompok bersenjata Rwanda lain yang pulang dari Republik Demokratik Kongo (DRC). FDLR sendiri lahir setelah genosida 1994 terhadap etnis Tutsi, ketika anggota militer dan milisi lama melarikan diri ke Zaire—kini DRC. Pemerintah Rwanda menuduh FDLR melakukan serangan lintas batas dan mengganggu keamanan negara.
Francis Musoni, Sekretaris Jenderal Komisi Demobilisasi dan Reintegrasi Rwanda, menjelaskan bahwa program di Mutobo mencakup perawatan medis, dukungan psikososial, pendidikan kewarganegaraan, hingga bantuan menghubungkan kembali para mantan kombatan dengan keluarga. Mereka juga bisa menelepon kerabat lewat layanan telepon yang disediakan. "Kami membantu mereka membangun kepercayaan diri, membangun rasa percaya, dan memberdayakan mereka agar bisa kembali ke masyarakat dan ikut membangun negara bersama keluarga," kata Musoni.
Menariknya, para peserta rehabilitasi diizinkan berkunjung ke kampung halaman untuk waktu singkat. Mereka diberi izin tertulis selama satu hingga dua minggu, bahkan difasilitasi transportasi. Tujuannya agar kepercayaan diri mereka tumbuh sebelum benar-benar kembali bermasyarakat.
Bagi para mantan komandan yang diwawancarai Al Jazeera, keputusan meninggalkan FDLR didorong oleh ikatan keluarga, kekecewaan terhadap kelompok, dan kekhawatiran soal keselamatan pribadi. Kisah Hategekimana menjadi cermin tantangan besar reintegrasi mantan kombatan yang bertahun-tahun dijejali propaganda dan ketakutan.
Analisis dampak: Keberhasilan program Mutobo menjadi ujian penting bagi stabilitas kawasan Great Lakes. Jika reintegrasi berjalan mulus, Rwanda tak hanya mengurangi potensi ancaman keamanan lintas batas, tapi juga mengirim sinyal bahwa jalan pulang selalu terbuka. Namun, keberhasilan ini bergantung pada konsistensi pendampingan psikologis dan penerimaan masyarakat, karena stigma terhadap mantan anggota FDLR masih kuat. Di sisi lain, gelombang kepulangan ini bisa memperlemah FDLR dari dalam, meski risiko infiltrasi tetap perlu diwaspadai.