Yerusalem, Al Jazeera – Otoritas Israel kembali memperpanjang masa penahanan pemain tim nasional sepak bola putri Palestina, Rand Halawani (20), setelah ia diperiksa di Yerusalem, Selasa (28/5) malam. Tak hanya itu, empat perempuan lainnya ikut ditangkap, termasuk mantan pemain timnas Palestina, Natalie Abu Diyeh.
Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengecam keras perpanjangan penahanan ini. Dalam pernyataan resminya, PFA menyebut penangkapan Rand dan Natalie bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari pola sistematis yang menargetkan atlet Palestina tanpa adanya pertanggungjawaban.
Menurut keterangan Gubernur Yerusalem untuk Palestina, pengadilan Israel memperpanjang masa tahanan Rand hingga Jumat (31/5). Sementara itu, militer Israel menuduh keempat perempuan yang ditangkap di Tepi Barat itu terlibat dalam 'mempromosikan aktivitas teroris'. Tuduhan ini langsung dibantah oleh Universitas Birzeit, tempat Natalie berkuliah. Kampus itu menyebut penangkapan tersebut sebagai bagian dari kebijakan sistematis yang menghalangi hak pendidikan warga Palestina.
Uskup Imad Haddad dari Gereja Lutheran Evangelis di Yordania dan Tanah Suci, tempat Natalie beribadah, juga mendesak pembebasannya. Ia mengaku syok karena keluarga Natalie bahkan tidak tahu di mana ia dibawa.
Data dari Klub Tahanan, asosiasi utama hak-hak tahanan di Palestina, menunjukkan saat ini ada 89 perempuan Palestina di penjara Israel, termasuk tiga anak di bawah umur dan tiga ibu hamil. Sejak akhir Mei, total lebih dari 9.400 warga Palestina mendekam di penjara Israel.
Analisis Dampak: Penahanan ini kembali memicu kecaman internasional. Aktivis HAM menilai tindakan ini adalah bentuk kriminalisasi terhadap olahraga dan pendidikan Palestina. Dampaknya, karier atlet muda Palestina terancam, dan citra Israel di mata dunia olahraga semakin buruk. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) pun kembali mendapat tekanan untuk mengambil sikap tegas.