Tragedi menghantam kota Tripoli, Lebanon Utara, kala dua gedung bertingkat ambruk tiba-tiba pada Minggu. Musibah ini merenggut nyawa sedikitnya enam orang dan melukai delapan lainnya, memicu operasi penyelamatan besar-besaran di tengah puing-puing. Tim gabungan, terdiri dari pertahanan sipil, Palang Merah Lebanon, dan berbagai badan darurat, bersama warga setempat, bahu-membahu mencari korban yang diduga masih terjebak di bawah reruntuhan di kawasan Bab al-Tabbaneh.
Otoritas setempat, termasuk Pasukan Keamanan Internal dan kepolisian, segera mengevakuasi bangunan di sekitar lokasi ambruk, khawatir akan potensi keruntuhan susulan. Presiden Lebanon Joseph Aoun memerintahkan semua layanan darurat siaga penuh, sementara Perdana Menteri Nawaf Salam menyatakan kesiapan pemerintah memberikan bantuan perumahan bagi warga terdampak.
Namun, di balik upaya penyelamatan heroik, tragedi ini menyoroti permasalahan akut yang melanda Lebanon. PM Salam secara tegas menyebut insiden ini sebagai 'bencana kemanusiaan, buah dari bertahun-tahun pengabaian yang menumpuk'. Memang, infrastruktur Lebanon telah lama 'sakit' akibat puluhan tahun diabaikan, krisis ekonomi parah, korupsi, dan dampak konflik. Persoalan klasik seperti krisis listrik, pasokan air yang tidak layak, hingga jalan dan bangunan yang lapuk sudah bukan rahasia umum. Keruntuhan gedung ini bukan hanya kecelakaan biasa, melainkan cerminan nyata dari rapuhnya pondasi negara yang perlu segera dibenahi sebelum lebih banyak nyawa melayang.