Serangan udara kembali mengguncang Ukraina. Sebuah drone bermesin jet milik Rusia menghantam platform Stasiun Kereta Dnipro yang sedang ramai, menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai 10 lainnya, termasuk seorang bocah 11 tahun. Insiden ini terjadi saat sebuah kereta tujuan Zaporizhzhia tengah bersiap di jalur tersebut.
Kepala Wilayah Dnipropetrovsk, Oleksandr Hanzha, membenarkan jatuhnya korban jiwa dalam serangan yang berlangsung pada Kamis (27/7) tersebut. Menurut Kepala Perkeretaapian Ukraina, Oleksandr Pertsovsky, status siaga tinggi sebenarnya sudah diumumkan sebelum serangan. Namun, lonjakan penumpang tidak terhindarkan. "Sayangnya, masih banyak orang di platform saat kejadian," ujarnya.
Tak hanya di Dnipro, serangan juga menghantam pusat Kota Chernihiv di bagian utara. Dua remaja putri berusia 15 tahun tewas, dan 11 orang lainnya luka-luka akibat hantaman rudal Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras aksi ini dan mendesak Amerika Serikat, Eropa, serta G7 untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Moskow.
Di sisi lain, pertempuran masih berlangsung sengit. Kremlin melaporkan bahwa pertahanan udara mereka menembak jatuh 613 drone Ukraina yang meluncur ke arah Moskow. Serangan balasan ini terjadi saat ibu kota Rusia tersebut menjadi tuan rumah KTT Rusia-Afrika yang dihadiri delegasi dari 48 negara.
Analisis Dampak: Serangan terhadap infrastruktur kereta api menunjukkan eskalasi konflik yang semakin membahayakan warga sipil. Kereta api merupakan tulang punggung transportasi Ukraina; gangguan di jalur ini tidak hanya memutus logistik militer tetapi juga mobilitas masyarakat. Meskipun Rusia mengklaim hanya menargetkan infrastruktur militer, fakta di lapangan menunjukkan tingginya risiko bagi penduduk sipil yang menggunakan transportasi umum.