Iran mengambil langkah diplomasi agresif di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan pihaknya siap melanjutkan serangan militer skala penuh ke Republik Islam tersebut. Laporan Axios mengutip pejabat AS menyebut Komando Pusat AS (CENTCOM) sedang menyiapkan operasi militer besar di Iran dan hanya menunggu perintah dari Washington. Trump sendiri kepada wartawan Kamis lalu menegaskan AS mungkin harus 'menghancurkan' sisa Iran, dan publik akan 'segera tahu' jika ia benar-benar bertindak.
Ketegangan memanas setelah Iran menembak jatuh dua drone pengintai AS di dekat Pulau Qeshm, Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi sasaran serangan AS. Tehran bersumpah membalas jika AS melanjutkan serangan besar-besaran. Di tengah situasi panas itu, Iran menawarkan proposal nuklir dan perdamaian baru kepada AS melalui mediator Qatar. Namun ada syaratnya: proposal itu baru dibahas setelah Washington memenuhi tujuh tuntutan Tehran.
Tujuh tuntutan tersebut mencakup pencabutan sanksi terhadap Iran, pembekuan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan sekitar Selat Hormuz. Selama syarat itu belum dipenuhi, Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz maupun memulai negosiasi. Pejabat keamanan tinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan pesan tegas itu saat berkunjung ke Moskow dan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin untuk menyampaikan pesan dari Pemimpin Tertinggi Iran. Rezaei menyebut pertemuan itu sebagai 'pertukaran yang sangat penting', meski isi pesannya tidak diungkap ke publik.
Di sisi lain, AS bersikeras kesepakatan soal kapasitas nuklir Iran harus menjadi bagian dari gencatan senjata sebelum pembicaraan damai yang lebih luas bisa dimulai. Sementara itu, Financial Times melaporkan Rusia sebelumnya setuju memasok Iran dengan 90 peluncur rudal presisi yang dipasang di helikopter, meski Moskow sendiri masih membutuhkan persenjataan untuk perang Ukraina. Hubungan Rusia-Iran kian erat sejak invasi Ukraina 2022, dengan kedua negara kini menjadi dua negara paling banyak dikenai sanksi di dunia.
Analisis dampak: Bagi masyarakat global, taruhan utama ada pada Selat Hormuz—jalur pelayaran yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jika Iran benar-benar menutup selat itu, harga minyak dan energi global berpotensi melonjak, yang ujung-ujungnya menekan daya beli masyarakat Indonesia melalui kenaikan harga BBM dan bahan pokok. Di sisi domestik, posisi Indonesia yang non-blok perlu dicermati agar tidak terseret pusaran konflik AS-Iran. Diplomasi aktif dan diversifikasi sumber energi menjadi kunci agar guncangan geopolitik ini tidak merembet ke stabilitas ekonomi nasional.