Quito, Ekuador - Ketegangan politik di Ekuador kembali memanas setelah otoritas menahan Luisa Gonzalez, tokoh oposisi terkemuka sekaligus mantan kandidat presiden. Penangkapan ini merupakan bagian dari penyelidikan dugaan penyelewengan dana kampanye pada pemilihan presiden 2023 lalu.
Jaksa Agung Ekuador menyatakan bahwa penahanan tersebut terkait dengan kasus dugaan pencucian uang. Penyidik tengah mendalami dugaan penggunaan jaringan entitas untuk menyalurkan dana sekitar 500 ribu dolar AS guna membiayai iklan kampanye antara Mei dan Agustus 2023. Selain Gonzalez, ada tujuh orang lain yang juga diperiksa terkait inkonsistensi sumber dana tersebut.
Gonzalez, yang merupakan sekutu mantan Presiden Rafael Correa, langsung merespons keras. Melalui media sosial X, ia menyebut tuduhan tersebut sebagai hal yang 'absurd' dan mengklaim dirinya sebagai tahanan politik. Ia menyerukan persatuan pendukungnya untuk melawan apa yang disebutnya sebagai 'kediktatoran Noboa'.
Partai Gonzalez, Gerakan Revolusi Warga (RC), mengecam penangkapan ini sebagai tindakan bermotif politik dan menuntut pembebasan segera. Mantan Presiden Correa juga ikut angkat bicara, menyebut kasus ini sebagai bentuk persekusi politik.
Penangkapan ini terjadi di tengah tensi politik yang tinggi. Gonzalez sebelumnya kalah dalam putaran kedua melawan Presiden petahana Daniel Noboa pada April 2025. Ia menolak hasil tersebut dan menuduh adanya kecurangan, sementara pemerintah Noboa menuduh gerakan politik Gonzalez bersekongkol dengan kelompok kriminal.
Analisis Dampak: Langkah penahanan ini berpotensi memperlebar polarisasi di masyarakat Ekuador. Pendukung oposisi kemungkinan akan melihat ini sebagai kriminalisasi politik, sementara kubu pemerintah menganggapnya sebagai penegakan hukum. Situasi ini bisa memicu gelombang protes baru yang mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi negara, terutama karena Ekuador saat ini juga tengah menghadapi krisis keamanan akibat geng narkoba.