KINSHASA, DRC – Aksi unjuk rasa di Republik Demokratik Kongo (DRC) berujung ricuh dan bentrok. Polisi melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa saat pendukung oposisi dan kelompok pro-pemerintah saling serang di depan gedung parlemen, Jumat (24/5).
Kericuhan ini dipicu oleh rencana revisi undang-undang yang diduga menjadi celah bagi Presiden Felix Tshisekedi untuk menjabat lebih dari dua periode. Tokoh oposisi Martin Fayulu terlihat berlumuran darah di wajahnya setelah insiden tersebut, sementara rekannya, Prince Epenge, juga dikabarkan mengalami luka ringan.
DRC saat ini sedang menghadapi krisis berlapis. Selain wabah Ebola yang belum usai, konflik berkepanjangan dengan kelompok pemberontak M23 yang didukung Rwanda juga kembali memanas. Di tengah situasi genting ini, Tshisekedi yang masa jabatan keduanya habis pada 2028 justru melontarkan wacana untuk maju lagi pada pilpres berikutnya dengan alasan 'kehendak rakyat'.
Koalisi oposisi C64 menilai langkah ini sebagai ancaman serius terhadap stabilitas negara. Mereka menolak keras usulan amendemen konstitusi yang memungkinkan presiden mengubah aturan masa jabatan jika terjadi 'disfungsi besar' pada lembaga negara. Padahal, konstitusi DRC secara tegas melarang perubahan batas masa jabatan presiden.