Hasil hitung cepat atau exit poll Pemilu Parlemen Slovenia menunjukkan persaingan ketat yang bikin deg-degan. Partai Gerakan Kebebasan (GS) yang saat ini berkuasa memang memimpin tipis, tapi posisi mereka belum aman. Untuk bisa membentuk pemerintahan, mereka wajib mencari banyak mitra koalisi.
Menurut data exit poll yang dirilis TV Slovenia dan Pop TV pada Minggu lalu, GS diperkirakan meraih 29,9 persen suara, yang berarti sekitar 30 kursi dari total 90 kursi parlemen. Angka ini sebetulnya menurun drastis dibanding perolehan mereka sebelumnya yang mencapai 41 kursi. Sementara itu, di posisi kedua ada Partai Demokratik Slovenia (SDS) pimpinan politisi populis Janez Jansa, yang diproyeksikan meraih 27 kursi.
Ketua partai GS sekaligus PM petahana Robert Golob, 59 tahun, sempat menyerukan warga untuk menggunakan hak pilihnya. "Demokrasi dan kedaulatan Slovenia tidak bisa lagi dianggap remeh," tegas Golob kepada para jurnalis. Di sisi lain, Janez Jansa menyambut baik hasil exit poll ini. Ia menyatakan akan menunggu hasil akhir dan mengatakan, "Siapa pun yang menginginkan perubahan kemungkinan harus menunggu hasil akhir."
Namun, di balik hiruk-pikuk perebutan kursi, Pemilu Slovenia kali ini diwarnai kontroversi panas. Sebuah laporan pekan lalu menuduh Jansa bertemu dengan pejabat firma mata-mata Israel, Black Cube, pada Desember lalu. Tuduhan ini memicu kekhawatiran serius tentang potensi intervensi asing dalam proses demokrasi negara anggota Uni Eropa. Jika terbukti benar, kejadian ini bukan cuma mengancam integritas pemilu, tapi juga bisa merusak kepercayaan publik dan stabilitas politik di Slovenia, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar tentang campur tangan pihak luar dalam urusan internal negara berdaulat.