Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja bertemu di Moskow dalam negosiasi yang krusial. Pertemuan ini diselenggarakan menyusul jatuhnya mantan sekutu Kremlin, Bashar al-Assad, pada akhir 2024 lalu. Agendanya jelas: Putin berupaya keras mengamankan keberadaan militer Rusia di Suriah, yang selama ini menjadi basis pengaruhnya di Timur Tengah.
Saat ini, Rusia hanya punya dua pangkalan militer utama di Suriah, yakni Pangkalan Udara Hmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus di pesisir Mediterania. Ini adalah satu-satunya pos militer mereka di luar wilayah bekas Uni Soviet setelah menarik pasukannya dari Bandara Qamishli di timur laut Suriah yang dikuasai Kurdi belum lama ini. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, bahkan menegaskan bahwa fokus pembicaraan adalah "keberadaan tentara kami di Suriah."
Sejak kekuatan pemberontak al-Sharaa berhasil menggulingkan Assad pada Desember 2024, Moskow memang aktif membangun hubungan dengan pemerintahan baru di Damaskus. Tujuannya tak lain agar keberadaan militernya tetap diakui, demi menjaga cengkeraman geopolitiknya di kawasan. Meski Putin pernah mati-matian mendukung Assad dengan bantuan militer besar-besaran, pemerintahan al-Sharaa memilih pendekatan pragmatis terhadap Rusia. Mereka membolehkan Moskow mempertahankan pangkalannya.
Namun, ada satu ganjalan serius: Rusia masih melindungi Assad dan istrinya yang melarikan diri ke Moskow pasca pemberontakan. Al-Sharaa berulang kali meminta ekstradisi Assad, namun Peskov menolak berkomentar terkait permintaan sensitif ini. Bagi Putin, mempertahankan pengaruh di Suriah jadi prioritas utama. Apalagi, ia baru saja kehilangan sekutu lain bulan ini, saat Presiden Venezuela Nicolas Maduro 'diculik' oleh pasukan khusus Amerika Serikat. Ini menunjukkan betapa gentingnya situasi bagi Rusia. Di sisi lain, AS yang menyambut baik tumbangnya Assad, kini justru semakin menghangatkan hubungan dengan al-Sharaa. Washington bahkan berperan dalam terciptanya gencatan senjata yang rapuh antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi dan militer Suriah.
Situasi di Suriah saat ini penuh dinamika. Keberadaan militer asing, terutama Rusia, terus menjadi faktor penentu stabilitas dan peta kekuatan di Timur Tengah. Sementara itu, nasib Bashar al-Assad yang terkatung-katung di Moskow menjadi ujian bagi hubungan Suriah-Rusia yang baru, sekaligus potensi batu sandungan untuk rekonsiliasi dan keadilan di Suriah di mata masyarakat internasional.