Ketegangan di Timur Tengah memanas tajam. Rudal-rudal Iran menghantam dua wilayah di selatan Israel, yakni Dimona dan Arad, menyebabkan bangunan hancur dan melukai setidaknya 180 orang. Yang mengkhawatirkan, serangan ini terjadi tak jauh dari pusat penelitian nuklir utama Israel, dan menandai pertama kalinya rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel di area sensitif tersebut.
Serangan balasan Iran pada Sabtu malam itu datang hanya beberapa jam setelah fasilitas pengayaan nuklir utama mereka di Natanz, Iran, juga digempur. Meski Israel membantah bertanggung jawab atas serangan di Natanz yang terletak sekitar 220 km tenggara Teheran itu, Iran langsung bertindak. Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan ikut angkat bicara, memperingatkan bahwa serangan semacam itu berisiko memicu "bencana dahsyat di seluruh Timur Tengah".
Militer Israel mengakui tidak berhasil mencegat rudal-rudal yang jatuh di kota Dimona dan Arad, yang merupakan kota terbesar di dekat pusat nuklir di Gurun Negev, Israel. Dimona berjarak sekitar 20 km dari pusat penelitian nuklir, sementara Arad sekitar 35 km ke arah utara. Hingga kini, Israel diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, meski pemimpinnya selalu menolak untuk mengonfirmasi atau membantah.
Meskipun demikian, Badan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) melalui platform X, menyatakan belum menerima laporan adanya kerusakan pada pusat nuklir Israel atau tingkat radiasi abnormal pasca-serangan. Insiden ini jelas menunjukkan eskalasi konflik yang berbahaya, di mana serangan langsung antar negara dengan fasilitas nuklir menjadi pertaruhan serius bagi stabilitas regional dan global.