Gelombang kekerasan kembali melanda Tepi Barat yang diduduki. Aksi ini dipicu oleh fatwa kontroversial dari Rabbi Dov Lior, tokoh agama sayap kanan yang menyerukan agar pemukim Yahudi mengambil hasil panen zaitun milik warga Palestina. Fatwa ini menjadi justifikasi bagi sekelompok pemukim untuk melakukan serangan brutal terhadap para petani.
Berdasarkan laporan berbagai sumber, sedikitnya enam warga Palestina—termasuk empat perempuan dan satu anak—mengalami luka-luka akibat amukan pemukim di Desa Ma'in, dekat Hebron. Tidak hanya itu, di Deir Ammar dan Tuqu, pasukan Israel dilaporkan melepaskan tembakan ke arah kendaraan warga dan memaksa petani meninggalkan lahan mereka. Aksi perusakan juga terjadi di Kafr Malek, di mana sekitar 20 ekor domba milik warga tewas.
Dampak dari eskalasi ini sangat luas. Sejak awal Oktober, tercatat lebih dari 300 serangan terhadap petani zaitun. Musim panen yang seharusnya menjadi sumber penghidupan utama warga Palestina kini berubah menjadi mimpi buruk. Para petani tidak hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi juga kehilangan akses ke lahan mereka. Situasi ini diperparah dengan penangkapan sejumlah pemilik lahan oleh otoritas Israel, membuat masyarakat sipil semakin terjepit di tengah konflik yang memanas.