KORBAN AS JATUH, KENAPA PUBLIK ANGKAT KAKI DARI PERANG TRUMP? - Berita Dunia
← Kembali

KORBAN AS JATUH, KENAPA PUBLIK ANGKAT KAKI DARI PERANG TRUMP?

Foto Berita

Eskalasi di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat (AS)-Israel yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, kini semakin memanas dengan pengumuman kematian tentara AS pertama. Ironisnya, sebuah jajak pendapat yang dilakukan sebelum kabar duka tersebut, justru sudah menunjukkan rendahnya dukungan publik AS terhadap operasi militer ini. Situasi ini menempatkan Presiden Donald Trump pada posisi dilematis, berpotensi menjadi bumerang politik serius.

Survei Reuters/Ipsos yang digelar tak lama setelah operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu pembalasan regional, mengungkap fakta mengejutkan. Hanya satu dari empat responden yang menyatakan setuju dengan serangan tersebut. Mayoritas, yakni 43 persen, secara tegas tidak setuju, sementara 29 persen lainnya mengaku masih bimbang. Temuan awal ini diperkirakan akan sangat memengaruhi langkah pemerintahan Trump ke depan dan respons para anggota kongres, terutama menjelang musim pemilihan paruh waktu yang berat.

Presiden Trump sendiri pada Minggu (waktu setempat) bersumpah akan melanjutkan apa yang ia sebut sebagai “misi yang benar” hingga “semua tujuan tercapai”. Merujuk pada tiga personel militer AS yang diumumkan tewas, Trump bahkan mengisyaratkan, “kemungkinan akan ada lebih banyak [korban] sebelum ini berakhir.” Trump kembali membingkai Iran sebagai ancaman eksistensial bagi AS, mengklaim bahwa para pemimpin negara itu “telah melancarkan perang terhadap peradaban itu sendiri.”

Namun, jajak pendapat tersebut mengindikasikan bahwa publik AS tidak sepenuhnya sepakat dengan pandangan tersebut. Bahkan di kalangan pendukung Partai Republik, meskipun persentase yang setuju lebih tinggi (55 persen), dukungan itu tidak bulat. Sebanyak 42 persen responden Republik bahkan menyatakan kemungkinan akan menarik dukungan mereka jika operasi ini menyebabkan “tentara AS di Timur Tengah tewas atau terluka.” Sementara itu, penolakan di kalangan Partai Demokrat sangat dominan, mencapai 74 persen.

Kondisi ini menjadi krusial mengingat Trump sebelumnya berkampanye dengan janji untuk mengakhiri “perang tanpa akhir” dan menghentikan intervensi AS di luar negeri dengan pivot “America First”. Doug Bandow, seorang peneliti senior dari Cato Institute, sebuah lembaga kajian libertarian, menyebut konfirmasi kematian tentara AS ini “membawa pulang biaya perang” kepada rakyat Amerika. Para pengamat politik mengingatkan, jika konflik ini tidak berakhir dengan “kemenangan cepat, mudah, dan menentukan,” maka kemarahan publik yang meluas berpotensi menggerus basis dukungan setia Trump.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook