Opini publik Ukraina tentang konflik Israel-Gaza dilaporkan mulai bergeser. Dari awalnya tegas mendukung Israel, kini banyak warga Ukraina menaruh simpati pada Palestina. Perubahan ini juga diikuti dengan kekecewaan terhadap Amerika Serikat, yang dianggap tidak lagi menjadi sekutu setia.
Pada awal invasi Israel ke Gaza Oktober 2023 lalu, Presiden Volodymyr Zelenskyy dan Ibu Negara Olena Zelenska sempat menyatakan dukungan penuh untuk Israel. Bahkan, bendera Israel sempat berkibar di sejumlah sudut Kyiv. Sikap ini kala itu sejalan dengan pandangan sebagian besar masyarakat Ukraina dan para pemimpin Barat.
Namun, seiring berjalannya waktu dan intensitas serangan Israel yang terus menelan korban sipil di Gaza, pandangan publik Ukraina berubah. Banyak yang mulai melihat paralel antara penderitaan warga Palestina dengan tragedi kelaparan besar Holodomor di era Soviet yang dianggap genosida oleh Kyiv. Seorang profesional medis keturunan Gaza yang kini warga negara Ukraina, Hashem, menyoroti perbedaan perlakuan internasional: "Bepergian sebagai warga Ukraina membuka pintu; sebagai warga Palestina menutupnya." Ini menuntut prinsip hak asasi manusia yang universal, tidak peduli kewarganegaraan.
Selain itu, kekecewaan juga mulai tumbuh terhadap Amerika Serikat. Pendekatan Presiden Donald Trump terhadap perang Rusia-Ukraina membuat banyak warga Ukraina merasa AS bukan lagi sekutu sejati, melainkan kekuatan imperial yang melihat Ukraina sebagai sumber daya. Apalagi, adanya kesepakatan mineral dengan Washington semakin memperkuat pandangan ini, berbeda dengan awal perang di mana mereka merasa didukung penuh.
Gerakan protes pro-Palestina memang sempat bermunculan di Kyiv dan liputan media mainstream mulai mengangkat penderitaan warga Gaza. Namun, pemboman infrastruktur Ukraina oleh Rusia di tengah musim dingin, yang membuat jutaan orang tanpa listrik dan pemanas, sementara waktu membekukan gerakan ini. Pergeseran sentimen ini menunjukkan kompleksitas geopolitik dan bagaimana pengalaman historis sebuah bangsa dapat membentuk empati politiknya.