Sebuah video berteknologi kecerdasan buatan (AI) yang dirilis oleh partai berkuasa di India, Bharatiya Janata Party (BJP), baru-baru ini menyulut kemarahan publik. Video kontroversial itu secara gamblang menampilkan Menteri Utama Assam, Himanta Biswa Sarma, sedang menembakkan senjata ke arah gambar sekelompok pria Muslim. Adegan provokatif ini sontak memicu badai kecaman, baik dari dalam negeri maupun pengamat internasional.
Insiden ini tentu bukan sekadar kejadian biasa. Di India, negara dengan sejarah panjang ketegangan antar-agama, khususnya antara mayoritas Hindu dan minoritas Muslim, konten semacam ini sangat sensitif dan berpotensi memicu gejolak serius. Partai BJP sendiri, yang dikenal dengan ideologi nasionalis Hindu-nya, sering dituduh menggunakan retorika yang bisa memecah belah masyarakat dan memperdalam jurang polarisasi.
Lebih jauh, penggunaan AI untuk menciptakan video yang seolah-olah nyata namun bersifat provokatif, menimbulkan kekhawatiran serius. Ini bukan hanya tentang ujaran kebencian, tetapi juga tentang potensi penyalahgunaan teknologi canggih untuk menyebarkan disinformasi atau propaganda politik yang berbahaya. Di tengah diskursus global mengenai etika AI dan dampaknya terhadap integritas informasi serta demokrasi, kasus ini menjadi peringatan nyata. Kecaman yang meluas menggarisbawahi pentingnya regulasi dan pengawasan ketat terhadap penggunaan AI, khususnya dalam konteks politik yang rentan konflik.