NEW DELHI - Sebuah gerakan pemuda bernama Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoak Rakyat mendadak menjadi kekuatan baru yang mengguncang peta politik India. Berawal dari satire politik di dunia maya, gerakan ini kini berubah menjadi gelombang protes nyata yang menuntut akuntabilitas pemerintah, lapangan kerja, dan pemilu yang adil.
Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, menegaskan bahwa tujuan utama gerakan ini adalah mengembalikan budaya tanggung jawab di tubuh pemerintah India. Pada Mei lalu, CJP berhasil memobilisasi ribuan anak muda turun ke jalan untuk memprotes kebocoran soal ujian, pengangguran, dan mahalnya biaya hidup. Tekanan massa ini membuahkan hasil konkret: Menteri Pendidikan India akhirnya mengundurkan diri beberapa minggu kemudian.
Kini, sasaran protes beralih ke Komisioner Pemilihan Umum. CJP bersama partai oposisi menuding lembaga penyelenggara pemilu tersebut memanipulasi daftar pemilih untuk menguntungkan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di bawah Perdana Menteri Narendra Modi. Komisi Pemilihan membantah keras tuduhan itu dan menyatakan bahwa pihaknya hanya menghapus data pemilih yang sudah meninggal, ganda, atau tidak memenuhi syarat.
Di sisi lain, BJP menuduh para demonstran sengaja menciptakan kekacauan dan berupaya merusak demokrasi. Dipke membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa CJP hanya menginginkan India yang lebih baik: pendidikan berkualitas, lapangan kerja yang luas, pemilu yang bebas dan jujur, serta pemerintah yang berhenti mengabaikan suara generasi muda.
Perjuangan ini tidak mudah. Beberapa pimpinan CJP, termasuk Dipke sendiri, telah ditangkap. Namun, ia menegaskan bahwa gerakan ini tidak akan goyah. (Sumber: Al Jazeera)