Mantan Presiden AS Donald Trump meluncurkan situs web baru bernama TrumpRx pada Kamis lalu di Gedung Putih. Platform ini disebut-sebut bakal jadi solusi untuk menekan biaya obat resep yang sudah lama jadi beban bagi masyarakat AS karena harganya yang selangit dibandingkan negara lain. Lewat TrumpRx, konsumen bisa membeli obat diskon langsung dari produsen farmasi dengan mencetak kupon yang tersedia di situs tersebut.
Trump sesumbar bahwa inisiatif ini akan membuat masyarakat 'menghemat banyak uang dan tetap sehat'. Beberapa produsen obat raksasa dunia disebut-sebut sudah setuju untuk menurunkan harga di bawah skema 'Most Favoured Nation' (MFN) demi menghindari tarif impor AS. Saat ini, TrumpRx sudah menawarkan diskon untuk lebih dari 40 jenis obat populer, termasuk obat penurun berat badan seperti Ozempic dan Wegovy. Situs ini bahkan mengklaim bakal menyajikan 'harga obat resep terendah di dunia' dan menyebut upaya ini sebagai 'reset harga resep paling berdampak dalam sejarah negara'.
Namun, di balik gembar-gembor janji manis ini, sejumlah analis justru sangsi. Juliette Cubanski, Deputi Direktur Kebijakan Medicare di organisasi KFF, misalnya, mempertanyakan efektivitas TrumpRx, terutama bagi mereka yang sudah punya asuransi. Menurutnya, biaya yang harus dikeluarkan dari kantong pribadi (out-of-pocket) bisa jadi tetap tidak terjangkau bagi banyak orang. Detail kesepakatan MFN dengan perusahaan farmasi juga masih dirahasiakan, sehingga publik minim informasi tentang isi perjanjian sebenarnya.
Inisiatif TrumpRx ini mencerminkan gaya kebijakan Trump yang personalistik, lebih suka mencapai kesepakatan individu ketimbang lewat jalur regulasi dan legislatif tradisional. Mengingat kuatnya pengaruh perusahaan farmasi dalam politik AS – laporan Open Secrets mencatat mereka menghabiskan rekor $187 juta untuk lobi pada tahun 2025 – pertanyaan besar muncul: apakah TrumpRx benar-benar mampu mengguncang industri farmasi dan membuat harga obat jadi lebih merakyat, atau sekadar manuver populis tanpa dampak signifikan?