Di tengah pergeseran fokus dunia ke konflik Timur Tengah, perang di Eropa Timur justru semakin memanas dengan serangan balasan yang menargetkan fasilitas energi. Ratusan ribu rumah tangga di Ukraina dan Rusia harus bertahan tanpa listrik setelah kedua negara terlibat dalam serangkaian serangan balasan yang menargetkan infrastruktur energi vital mereka.
Setidaknya 450.000 warga di wilayah Belgorod, Rusia, terpaksa hidup tanpa listrik, panas, dan pasokan air karena fasilitas vital rusak. Gubernur Belgorod, Vyacheslav Gladkov, menyebut perbaikan akan memakan waktu beberapa hari. Situasi di sana diperparah dengan suhu mendekati 0 derajat Celcius. Wilayah Belgorod sendiri sering jadi sasaran serangan Ukraina, mengingat letaknya sekitar 40 km dari perbatasan.
Tak jauh berbeda, di Ukraina, sekitar 150.000 pelanggan di kota Chernihiv dan sekitarnya juga mengalami pemadaman total akibat kerusakan fasilitas energi. Perusahaan distribusi listrik setempat menyatakan perbaikan akan segera dilakukan jika situasi keamanan memungkinkan. Serangan serupa di wilayah Odesa, Ukraina selatan, bahkan menewaskan satu orang dan melukai satu lainnya, serta merusak sejumlah bangunan.
Sementara itu, Rusia juga melaporkan serangan drone Ukraina menargetkan terminal ekspor minyak utama di pelabuhan Ust-Luga, Laut Baltik, yang memicu kebakaran hebat. Gubernur wilayah Leningrad, Alexander Drozdenko, memastikan tidak ada korban jiwa dan api berhasil dikendalikan. Intensifikasi serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak dan jalur ekspor Rusia ini disinyalir sebagai strategi untuk melemahkan ekonomi perang Moskow.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh 389 drone Ukraina dalam semalam, termasuk di wilayah Moskow. Kondisi ini kian tegang dengan insiden jatuhnya drone dari Rusia di wilayah Latvia, anggota NATO. Kejadian ini berpotensi memicu kekhawatiran terkait Pasal 5 pertahanan bersama NATO, yang bisa menyeret aliansi tersebut lebih dalam ke konflik.