Konflik bersenjata di Yaman kembali memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan serangan rudal ke jantung pemerintahan yang diakui internasional. Serangan pertama menghantam Istana Kepresidenan Al-Maashiq di kota Aden pada Kamis, menewaskan lima orang dan melukai 16 lainnya. Korban terdiri dari petugas keamanan dan pegawai sipil. Perdana Menteri Shaya al-Zindani dipastikan selamat, meski dua pengawalnya gugur.
Belum reda, sehari berselang atau Jumat, dua rudal kembali menghantam area Bandara Internasional Aden. Insiden ini terjadi saat pesawat penumpang Yemenia Flight 612 tengah bersiap lepas landas menuju Kairo. Menteri Informasi Moammar al-Eryani menyebut rudal mendarat sekitar 500 meter dari pesawat. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini dianggap ancaman serius bagi keselamatan penerbangan sipil.
Houthi melalui juru bicaranya, Yahya Saree, mengklaim serangan ini menyasar markas operasi militer Saudi dan gudang senjata di Camp Badr, yang lokasinya berdekatan dengan bandara. Eskalasi ini menandai runtuhnya gencatan senjata yang bertahan sejak 2022. Situasi makin rumit karena Houthi baru saja melancarkan ofensif besar di pesisir Laut Merah dan menguasai wilayah strategis Selat Bab al-Mandeb. Pemerintah Yaman pun meluncurkan operasi balasan bertajuk 'Fajar Yaman', namun belum berhasil merebut kembali wilayah yang hilang.
Analisis Dampak: Serangan ke Aden tidak hanya berdampak pada krisis kemanusiaan di Yaman, tetapi juga memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas jalur pelayaran Laut Merah. Dengan bandara internasional yang kini menjadi sasaran militer, akses bantuan logistik dan evakuasi warga sipil berpotensi terputus total. Situasi ini mempertegas bahwa perang proksi antara Arab Saudi dan Iran di Yaman kembali menjadi ancaman nyata bagi keamanan maritim internasional.