Jakarta - Mantan manajer perlengkapan Arsenal, Mark Bonnick, menggugat klub sepak bola tersebut ke pengadilan hubungan industrial. Ia mengklaim dipecat secara tidak adil setelah cuitan dukungannya untuk Palestina di media sosial menjadi kontroversi.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Bonnick menegaskan tidak menyesali sikapnya. Ia menilai pemecatan itu merupakan pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat dan membuktikan adanya standar ganda di dunia olahraga. "Saya hanya menyuarakan kemanusiaan, bukan politik," ujarnya.
Kasus ini memicu diskusi panas di kalangan penggemar sepak bola global. Banyak yang membandingkan perlakuan Arsenal terhadap Bonnick dengan kasus pemain atau ofisial lain yang pernah menyuarakan isu politik tanpa sanksi serupa.
Analis olahraga menilai kasus ini bisa menjadi preseden penting. Jika Bonnick menang, klub-klub sepak bola mungkin harus merevisi kebijakan media sosial mereka agar lebih transparan dan tidak diskriminatif terhadap pandangan politik karyawan. Di sisi lain, kekalahan Bonnick bisa memperkuat anggapan bahwa industri olahraga Eropa kerap menerapkan standar ganda, terutama terkait isu Timur Tengah.