Jakarta – Pakistan mengklaim telah berhasil menjadi penengah dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Islamabad menyatakan bahwa draf teks akhir kesepakatan damai sudah disepakati kedua belah pihak, dan hanya menunggu langkah finalisasi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengakui bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Teheran dan Washington 'tidak pernah sedekat ini'. Klaim ini muncul bersamaan dengan Pakistan yang mulai memamerkan peran di balik layar dalam perundingan tersebut.
Analisis Dampak: Jika klaim ini benar, ini bisa menjadi terobosan besar yang mengubah peta geopolitik Timur Tengah. Kesepakatan ini berpotensi menurunkan harga minyak dunia yang selama ini tertekan akibat ketegangan di Selat Hormuz. Namun, publik patut waspada; Pakistan dikenal memiliki hubungan rumit dengan kedua negara, dan seringkali klaim diplomatik semacam ini bisa menjadi alat negosiasi internal. Media lain mencatat bahwa Iran masih bersikeras pada pencabutan semua sanksi, sementara AS menginginkan jaminan Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Jadi, 'kesepakatan final' ini masih jauh dari kata selesai.