Washington, DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat keputusan mengejutkan. Ia menunjuk Bill Pulte, seorang pejabat perumahan yang tidak memiliki latar belakang intelijen, sebagai Pelaksana Tugas Direktur Intelijen Nasional (DNI). Jabatan ini adalah posisi puncak yang mengawasi 18 badan intelijen pemerintah AS.
Pulte, yang berasal dari dinasti pembangunan perumahan besar dan seorang pemodal ekuitas swasta, langsung menuai kontroversi. Ia dituding menggunakan jabatannya sebagai Direktur Badan Pembiayaan Perumahan Federal (FHFA) untuk membidik musuh politik Trump. Tuduhannya? Melaporkan dugaan penipuan hipotek terhadap Senator Adam Schiff, Jaksa Agung New York Letitia James, dan mantan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Namun, tak satu pun kasus itu berhasil dibawa ke pengadilan.
Keputusan ini diambil setelah Direktur DNI sebelumnya, Tulsi Gabbard, resmi mengakhiri masa tugasnya pada 30 Juni. Dalam pengumuman di media sosialnya, Trump memuji Pulte karena dinilai mampu mengelola perusahaan hipotek raksasa Fannie Mae dan Freddie Mac yang bernilai lebih dari 10 triliun dolar AS.
Reaksi keras langsung datang dari kubu Demokrat. Senator Mark Warner menyebut penunjukan ini sebagai bukti bahwa Trump tidak menginginkan pejabat intelijen yang independen, melainkan seseorang yang siap digunakan untuk balas dendam politik. Bahkan, Senator Republik John Cornyn pun meragukan kualifikasi Pulte. 'Saya tidak melihat bukti bahwa ia layak untuk jabatan itu,' ujarnya.
Analisis: Langkah Trump ini dinilai sebagai upaya untuk mengendalikan lembaga intelijen dari dalam. Jika Pulte benar-benar menjabat, kekhawatiran akan politisasi data intelijen demi kepentingan politik sempit bisa menjadi kenyataan. Publik AS dan dunia kini menunggu apakah Senat akan menolak atau mengesahkan penunjukan kontroversial ini.