Ketegangan di Tanduk Afrika kembali memanas. Ethiopia menuduh Eritrea melakukan 'invasi habis-habisan' ke wilayah Tigray, sementara Eritrea balik menuduh Ethiopia melancarkan 'perang agresi' yang tidak beralasan. Konflik ini memuncak setelah kedua negara memutus hubungan diplomatik.
Menteri Luar Negeri Ethiopia, Gedion Timothewos, dalam suratnya kepada DK PBB menyebut pasukan Eritrea telah maju hingga 60 kilometer ke wilayah Tigray. Ethiopia menuntut penarikan mundur pasukan dan mengklaim tindakan ini sebagai pelanggaran kedaulatan yang memicu hak bela diri.
Namun, Menteri Informasi Eritrea, Yemane Gebremeskel, membantah keras tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa rezim Ethiopia lah yang telah melancarkan perang agresi selama lebih dari tiga tahun. Eritrea juga menolak tuduhan bahwa mereka mendukung kelompok TPLF (Tigray People's Liberation Front).
Eskalasi ini dipicu oleh ambisi Ethiopia yang ingin mengakses kembali Laut Merah melalui pelabuhan Assab milik Eritrea. Situasi diperparah dengan keberhasilan tentara Ethiopia merebut kembali ibu kota Tigray, Mekelle, dari tangan pemberontak. Warga sipil di wilayah tersebut kini terancam bahaya besar akibat pertempuran yang terus meluas.